Cukup Sekali-kali Saja

Ceritanya hari ini ultahnya si M dari negara K (haha, bahasa kode, sumimasen^^;;), dan waktu diajak pergi minum buat merayakan ultah kawanku itu bareng W dari negara C, M dari negara J, dan H dari negara K, jelasnya aku ga bisa nolak. So pergilah kami pulang sekolah tadi.
Awalnya sempet terpikir mau makan buffet di Hotel New Hankyu. Pas akhirnya diputuskan untuk ga jadi makan di sana, aku luar biasa lega, secara sebelumnya udah sempet ketar-ketir waktu denger dari Echa kalo dinner di sana bisa abis sekitar 5rb yen@_@.
Akhirnya, kami jalan ke arah Higashi Doori, mecari resto Yakiniku (karena aku emang udah lama banget ngidam makan daging!). Di tengah jalan, kami ketemu mas-mas yang promosi restorannya (itu lhooo, yang biasa bagi2 pamflet di tengah jalan sambil bilang "Yakiniku dou desuka?") dan si H langsung berinisiatif nanya-nanya sama si mas itu.
Termakan sama hasutan si mas yang pinter banget promosi itu (sumpah dia bakat jadi sales atau tukang obat ^^;;), kami memutuskan untuk makan di resto yakiniku itu. Jadilah si mas mengantar kami ke sana.
Sampai di sana, kesan pertama adalah, "Takasou!". Model restorannya washiki gitu, tradisional Jepang, ada nakaniwa segala. Sesuai janji si mas, kami dikasih ruangan koshitsu (private room) yang menghadap taman itu dan diberi harga khusus untuk nomihoudai (minum sepuasnya) dari 1600 yen jadi 1000 yen. Sampe sana, semua OK, aku puas banget sama resto itu. Yang jadi masalah adalah ketika aku mulai melihat harga yakiniku yang terpampang di menu. Ciiiih, yappari ini resto mahal!
Akhirnya, kami memutuskan untuk mesen 2 set yakiniku aja, yang ternyata dagingnya ga seberapa banyak. jadinya tadi perut kami lebih banyak diisi minuman daripada makanan. Huaaa, padahal aku udah sampe bela2in ga makan siang karena mikir bakal pergi tabehoudaiT___T
Tapi ya udahlah, toh tanoshikatta dan oishikatta! emang harganya yang mahal sesuai sama kualitas dagingnya. Rupanya si mas ga sekedar ngecap doang waktu bilang restonya itu kualitas dan rasa dagingnya terjamin TOP. di genkan mereka juga terpampang foto2+ tandatangan+ komen dari selebritis2 top jepang yang --katanya sih-- jadi pelanggan di sana.
Sayangnya, di sana berlaku pembatasan waktu. Kita cuma dikasih waktu 2 jam, dan tentu saja dalam 2 jam itu kita berusaha sekuat tenaga untuk ga rugi karena udah bayar 1000 yen untuk nomihoudai. Iya, itulah jeleknya yang houdai2an, biasanya ujung2nya kita bakalan muri suru, maksa walaupun sebenernya udah ga sanggup. Untung ga ada yang sampe teler dan muntah2 tadi. Malah si H berhasil mencapai targetnya minum 15 gelas ebisu hokkaido beer dalam 2 jam itu@_@ Sasuga oang negara K, kayaknya yang namanya minum itu udah mendarah daging.
Setelah 2 jam di sana, tibalah saat yang paling mendebarkan dan menyakitkan hati: bayar bill! HIks2, yappari habis lebih dari 3000yen, padahal makan daging cuma secuil2.
Ah, ya sudahlah, Sekali-skali. Lagian ini ultah teman (yang sayangnya dari negara yang tidak punya kebiasaan mentraktir waktu ultah^^;;).
Nomikai berikutnya?
Semoga ga ada dalam waktu dekat ini!

                            

Pelajaran Hari Ini

Setiap hari Selasa, kalau lagi nunggu subway di midousuji line Umeda, ada seorang cewek yang selalu menarik perhatian saya di sana. Bukan, bukan karena saya "suka" dia!  alasan kenapa dia menarik perhatian saya adalah karena dia buta dan selalu ditemani sama eki kakari-in. Dan kebetulan, sama seperti saya, dia juga selalu menaiki gerbong joseisenyousha (for women only). Plus, satu lagi, dia orang nya sangat amat "cerewet", in a good way...maksudku, sambil nunggu kereta dateng ga putus-putusnya dia ngajak ngobrol si mas eki kakariin dengan nada yang begitu ceria dan narenareshi. Selalu begitu, setiap selasa!
Nah hari ini, aku ketemu lagi sama dia. Pas kereta datang, saya langsung sigap meloncat masuk dan mengamankan tempat duduk di pojok. Si mbak buta itu masuk ke dalam dituntun sama mas  kakariin, lalu berdiri pas didepanku. Secara kursi sebelah saya kosong, saya langsung bergeser dan mempersilahkan dia duduk di sebelah saya.
MB: ii desuka?
Aku: hai, douzo!
MB: sumimasen! (sambil tersenyum)
Lalu dia duduk, saya sudah bersiap-siap menikmati perjalanan 13 menit menuju ke sekolah dalam hening, seperti biasa. eh, tahu-tahu, si mbak buta itu mulai ngajakin ngobrol.
Seperti biasa, walaupun sebenernya males banget ngobrol sama orang asing (dan sama smua orang, in general), kalau mulai ditanyain sesuatu, saya ga sampai hati untuk nyuekkin. Akhirnya, ya mulailah percakapan ngalor ngidul singkat kami. Sebenernya sih, daripada "percakapan", lebih cocok dibilang monolog, secara kebanyakan si mbak yang ternyata mau pergi ke tempat kerjanya di Senri Chuo itu  yang ngomong dan saya cukup memberi respon secukupnya aja. Si mbak itu cerita macam-macam, tapi yang paling menarik buat saya adalah ceritanya tentang liburannya ke Guam bersama suaminya.
Dia bilang itu liburan pertamanya ke luar negeri, dan dia sebenarnya pengen banget pergi liburan lagi, tapi sayangnya tur yang memungkinkan orang cacat seperti dia dan suaminya untuk bepartisipasi masih terbatas sekali. Kalaupun ada, jadinya muahal tenan dibanding tur biasa. Dia juga bilang kalau di Guam, walau sempat takut,  dia main air di laut sama suaminya. Katanya, "Suami saya matanya juga cacat tapi masih bisa melihat sedikit. Waktu itu dia bilang ke saya kalau laut dan langit terlihat indaaah sekali!" Dia bercerita dengan muka berseri-seri dan membuat saya terenyuh! Buat saya yang matanya normal, bisa lihat langit sepertinya hal yang biasa saja. Seindah-indahnya langit terlihat, sepertinya ga mungkin saya bisa cerita tentang pengalaman saya melihat langit dengan muka seberseri-seri mbak yang cuma bisa "melihat" langit dari deskripsi suaminya itu.
Saya jadi teringat sama kelas barrier free yang  saya benci habis-habisan. Waktu diajarin tentang konsep barrier free tourism, saya terus terang menganggapnya dou demo ii. So what gitu lho, ga ada hubungannya sama saya! Tapi mendengar penuturan si mbak buta yang begitu ramah, ceria, dan sepertinya ga menganggap cacatnya sebagai sesuatu yang harus menghalangi dia untuk hidup normal dan menikmati perjalanan wisata seperti orang lain , saya jadi merasa tidak enak hati. Apalagi bagian di mana dia menyayangkan masih minimnya tur yang mengakomodasi kebutuhan penyandang cacat. Sebagai siswa sekolah pariwisata yang menerima pelajaran barrier free, duh, saya merasa tertohok... buanget.
Sepertinya saya lagi ditegur untuk lebih peduli sama orang-orang sekitar saya, ya. Saya sering dibilang "mukanshin sugiru", "tsukiai ga warui" dan hal-hal sejenis sama teman-teman saya, yang menegaskan rendahnya kemampuan dan kepekaan sosial saya. Time to change, mungkin.Kayaknya ga bisa saya terus-terusan berpikir, "Ga ada hubungannya sama aku, so what gitu lho!"
Khusus untuk kasus barrier free, sepertinya doushitemo memang  susah bagi saya untuk menyukai pelajaran itu. Bahkan kalaupun hati saya tergugah untuk memperjuangkan kehidupan normal bagi para penyandang cacat, itu pelajaran jitai ga akan pernah bisa masuk daftar favorit saya. tapi seenggaknya saya pengen mulai mencari-cari info tentang konsep barrier free dan universal design.
Saya mau mulai mencoba buat peduli.

^^

Kawan Lamaku Kembali

Namanya adalah insomnia.
Sudah cukup lama dia pergi meninggalkanku. Tapi entah kenapa, malam ini dia memutuskan untuk kembali.
Ah, kawanku, berkat dirimu,
Malam ini akan jadi malam yang sangat panjang...

Merencanakan Pernikahan

Tenang! Bukan pernikahan saya kok. Saya masih Ayu yang dulu, yang tak goyah walau diejek dan didera segala kritikan atas pandangannya mengenai pernikahan.
:P
Yang sedang saya rencanakan adalah sebuah pernikahan FIKTIF. Dan percaya deh, ini bukan saya lakukan berdasarkan iseng-iseng atau main-main belaka. Saya perlu melakukan ini demi mendapat nilai untuk subjek "海外ウエディング研究”. Nilai, dan hanya nilai!
Kalau tidak salah, sebelumnya saya pernah cerita tentang nilai F yang sudah hampir pasti akan saya dapatkan. Nah untungnya, nilai F itu bisa saya hindari, tapi dengan konsekuensi saya harus mengikuti subjek kaigai wedding itu walaupun sebenarnya sama sekali tidak berminat. Nah, lebih menyenangkannya lagi, masuk-masuk saya langsung disuruh menyusun report tentang overseas wedding, yang mengharuskan saya melakukan product research terhadap paket pernikahan di Bali dan Hawaii.
Dan bagian yang paling menggembirakan dari semua ini adalah, nilai kami  untuk subjek ini 100% tergantung pada report itu.
Great!
Karena itu sekarang saya sedang pusing, dikelilingi brosur-brosur paket pernikahan Bali dan Hawai dari berbagai travel agents. Mau mengambil tema apa? Mau membandingkan apa?
Kalau mau jujur, dari awal mindset saya sudah ga sejalan sama inti mata pelajaran ini. Saya  ga mengerti kenapa orang repot-repot merencanakan pernikahan di luar negeri? Sudah mahal (di Hawaii kira-kira 500 ribu yen untuk paket 6 hari, itu tentunya masih plus-plus dan tidak termasuk wedding party ), teman dan keluarga yang bisa datang kan pasti jadi terbatas! And this whole getting married in Chapels and Churches thingy...masih belum bisa masuk ke akal sehat saya. Jauh-jauh pergi ke Bali, memilih Chapel keren di pinggir pantai, menikah di hadapan "pendeta" (pakaiannya sih pendeta, i'm not sure tho..), semua cuma demi "fashion". Dan masih banyak lagi deh gimonten saya yang lain.
Sensei saya sendiri mengakui, sepertinya  yang menjual "wedding" sebagai bagian dari paket wisata itu cuma Jepang. Dan, masih menurutnya, bangsa yang secara keseluruhan merasa begitu wajar menikah di rumah ibadah (mmm, kalau chapel sih sepertinya sekarang memang banyak yang fungsinya buat menikah thok.) sebuah agama dengan segala prosesi religius agama tersebut tanpa perlu menjadi pemeluk agama itu, sepertinya juga cuma Jepang.
Dengan sejuta gimonten yang ada di kepala saya, saya ga tahu harus mulai menyusun report saya dari mana. Semakin saya baca brosur-brosur itu, semakin malas saya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Oh ya, kalau ada yang bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba menyebut diri saya sendiri menggunakan kata ganti "saya", jawaban saya adalah, "Suka-suka saya dong!"
Hehehe...

Change!

Sejak musim gugur tahun lalu, aku udah kehilangan minat sama drama jepang, benerbener ga ada 1 pun drama yang kuikutin lagi. Sampai akhirnya, bulan lalu drama terbarunya Kimutaku mulai tayang.
Change! Berkisah tentang seorang guru SD asal Kyuushuu yang awalnya benci banget sama dunia politik tapi justru secara tak terduga terpilih jadi Perdana Menteri. Sesuai judulnya, si Perdana Menteri baru ini, dengan "keluguan"nya dalam dunia politik . berusaha membawa banyak perubahan. Dia ga mau jadi PM yang melulu mikirin soal hitung-hitungan politis, buat dia yang harus didahulukan itu rakyatnya. Mau keputusan kontroversial yang ditentang sama partainya dan seluruh parlemen sekalipun, kalo dia yakin itu yang terbaik buat rakyatnya, ya dia jalan terus.
Wow! Kenyataannya, apa masih ada ya seorang pemimpin negara yang seperti itu? Hatinya seratus persen buat rakyat, sama sekali ga mikirin kepopuleran, kekuasaan, dan duit. Kayaknya susah ya nyari orang yang seperti itu. Mungkin awalnya mereka terjun ke dunia politik dengan segala idealisme mereka, tapi ujung-ujungnya ya goyah juga. Lha, kalo ga pake "main mata kiri kanan" dan kompromi, susah juga juga kan mempertahankan kekuasaan?
Kecuali kalo mau jadi diktator yang main libas setiap ada orang yang menentang....
Aku pernah nanya sama seorang temen, "Jadi pemimpin negara itu kan repot, puyeng, kenapa sih orang tetep aja rebutan posisi itu?"
Jawaban temenku, "Buat kekuasaan dong!"
Aku masih belum puas, "Lha terus kalo udah ada kekuasaan, emangnya bakal buat apa?"
"Duit, ayu, duit!" datte.. sambil tertawa atarimae no you ni.
Terus dia mencontohkan temen2 kami di Afrika yang pernah nanya sama dia "Udah ada berapa presiden di negaramu sejak negaramu berdiri?" Lha dia kerepotan ngitung, soalnya selama dia 2 tahun di Jepang aja presidennya udah ganti 3 kali! Ini kontras sama temen2 dari negara-negara Afrika yang rata-rata jumlah presiden sepanjang sejarah negaranya masih bisa dihitung pake sebelah jari.
Menurut mereka "Once, they're there (di "tahta" kepemimpinan), they'll never step down voluntarily!"
Segitu "memabukkannya" kah kekuasaan? Segitu bikin kecanduannya sampe orang bakal ngelakuin apa aja buat mendapatkan dan mempertahankannya?
Ah, coba PM seperti yang digambarkan di drama Change itu bener-bener ada dalam dunia nyata. Coba aja orang seperti dia yang jadi presiden Indonesia.
Hahaha, sayang yang namanya dorama ya cuma dorama....
(teyuka, kalo ada yang seganteng oom kimutaku jadi capres buat pemilihan presiden tahun depan sih, rencanaku bwt golput bakal langsung bubar jalan. wakakaka)

Promoting Barrier Free

Aku ga bermaksud jadi manusia kejam yang tidak berperikemanusiaan dan tidak peduli sama nasib orang-orang cacat dan hak-hak mereka untuk hidup layak...tapi...aku ga tertarik sama sekali sama pelajaran "Barrier Free". Aku ga tergerak untuk mempelajari secara mendetail sejarah hukum anti diskriminasi untuk orang cacat atau jenis-jenis cacat  dan penyebabnya. Aku juga ga punya ide-ide brilian yang bisa kusumbangkan untuk membuat hidup mereka jadi lebih mudah. TIDAK! Jadi si sensei itu percuma menerjemahkan setiap pertanyaan ke dalam B. Inggris buat aku. Mau pake b jpn, b ing, b ind, bhs planet mana juga...aku ga akan bisa jawab sesuai yang dia mau!
Yang ada pelajaran ini malah jadi "barrier" bagiku untuk menikmati hari Rabu yang tenang dan damai. Ini melanggar hak asasi ku! Aku kan juga berhak atas kehidupan yang "barrier free"!!
.............
.................
nante ne

(oh iya, 1 lagi barrier buat ku di hari rabu adalah pelajaran kihonnihongo, di mana aku ditempatkan di "chinatown"--;; Aku seorang diri di tengah kepungan sekitar 40an anak chuugoku yang sibuk berceloteh dengan bahasa mereka sendiri...ga tau mereka ngomongin apa, ngetawain sapa! Tapi, biarpun begitu, watashi ha aitsura no doujou nante iran !teka, chikazuitekonaide hoshii no!)

Kenapa "Nomikai" Tidak Akan Pernah ada di Daftar "Favorit" Saya

Sbsh0025_1

Bohong kalau aku bilang "nomikai" di sebuah izakaya di Esaka tadi ga menyenangkan sama sekali dan aku pergi dengan 100% perasaan terpaksa. Tapi, bayarnya itu lho yang bikin sakit hati. Buat sesama Indonesia-jin, saya bersyukur kita ga punya budaya "nomikai"! Let's keep it like that, ne.





(tadi habis nomikai di izakaya itu, ada 2 orang yang punya ide gila pergi ke "二軒目" alias lanjut minum ke izakaya lain. Duh, untungnya 3 di antara kami masih berpikiran waras dan sadar kalo besok masih hari sekolah. So we ended up going to Jankara Esaka instead...Karaoke lagi dah^^;; Btw, 2 orang yang tadi masih kepengen banget minum itu kayaknya sekarang lagi lanjut pergi minum ke suatu tempat bersama si namja Korea biang party ( u know who lah) ...Yah, mudah-mudahan tuh 3 orang ga kenapa-napa deh! Kalo besok aku ga liat mereka di skul...artinya mereka KO--;;)

Ai Pon

2458667047_3cb2a850c7

Denger-denger, iphone 3G bakal mulai dijual tanggal 11 Juli di Jepang oleh perusahaan HP  favorit para ryuugakusei  Softbank.

Denger-denger, harganya cuma 20rb an yen!

Kyaaaaa! I'm soooo getting one!

(omong-omong, sepertinya orang-orang Jepang sendiri ga terlalu heboh sama benda ini. Mungkin karena orang jepang, kalo masalah HP, cenderung setia sama merek2 lokal seperti toshiba, panasonic, dkk. Makanya merek semacem Nokia, yang jadi HP sejuta umat di Indonesia dan juga terkenal di berbagai negara di dunia, ga terlalu kedengeran gaungnya di sini.)

Kisah Jumat Malam

Kaeritaku Nattayo - Ikimonogakari

 

Kokoro no ana wo umetai kara Yasashii furi shite waratta
Deai to wakare ga sewashiku
boku no kata wo kaketeikuyo

Dame na jibun ga kuyashii hodo
wakatte shimau kara son da
Tsuyoku ha nari kirenai kara
tada me wo tsubutte taeteta

Hora miete kuru yo

Kaeritaku natta yo
kimi ga matsu machi e
Ookiku te wo futte kuretara
nando demo furikaesu kara
Kaeritaku natta yo
kimi ga matsu ie ni
Kiite hoshii hanashi ga aru yo
waratte kuretara ureshii na

Taisetsu na koto ha kazoeru hodo
aru wake jyanainda kitto
Kujikete shimau hi mo aru kedo
nakidasu koto nante mou nai

Hora miete kuru yo

Tsutaetaku natta yo
boku ga miru asu wo
Daijyoubu dayotte so iu kara
nandodemo kurikaesukara
Tsutaetaku natta yo
kawaranai yume wo
Kiite hoshii hanashi ga aru yo
unazuite kuretara ureshii na

Kaeritaku natta yo
kimi ga matsu machi e
Kakegae no nai sono te ni ima
mou ichido tsutaetai kara
Kaeritaku natta yo
kimi ga matsu ie ni
Kiite hoshii hanashi ga aru yo
waratte kuretara ureshii na

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ceritanya, hari Jumat kemaren, setelah lebih dari 1 bulan puasa karaoke, aku akhirnya pergi juga ke Jankara bareng Intan, Sandi, n si kohai yang ga berlaku selayaknya kohai Rein.

Sebenernya sih awalnya aku ga ada rencana pergi, tapi Kamis malem tiba-tiba dapet sms dr sandi mengabarkan ada "request" dari seseorang yang mengaku sedang stress berat untuk pergi karaoke n makan bareng. Secara aku dan intan memang cewek-cewek yang baik hati, rendah hati, dan...kebetulan napsu untuk Member_lbernyanyi-nyanyi ria juga sedang meluap-luap gara2 dah lama ga karaoke, kita bilang OK. Dan, hebatnya lagi, hari Jumat siang, tanpa diduga-duga, datanglah "surat cinta" dari kekasih kami tercinta, Jankara. Jankara room ryokin hangaku meeru! Yatta!! Jadi kita bisa karaoke cuma dengan setengah harga! (hehehe, untung kita ber-4 semuanya udah daftar "meeru kai-in" nya Jankara!). Hehehehe, ternyata Tuhan pun merestui rencana kami berteriak-teriak out of tune di Jankara hari itu!
JAdilah pulang skul hari Jumat (intan ama sandi sih libur...menyebalkan!), kami langsung terbang ke Jankara Tenma (jankara yang paling deket sama asrama ogimachi, dan termurah yang kami tahu) dan puas nyanyi-nyanyi 3 jam sampe suara serak dan kecapean sendiri.
Nah gara-gara acara karaoke kemarin itu, sekarang aku jadi ternginga-ngiang terus lagu "Kaeritaku natta" nya Ikimono gakkari. Sampe-sampe kemaren aku "private karaoke" di kamar nyanyiin lagu itu. KAeritaku natta yoooooo....
setelah selese Karaoke, kita "istirahat" bentar di asrama sambil nunggu Echa selese baito. Karena ga ada kerjaan, akhirnya kita main kartu. Seperti biasa, aku kalah mulu, paling banter jadi yang ke-2 dari terakhir! Aku emang ga bakat deh main kartu-kartuan...Dari kecil maenan yang aku tahu mah cuma sebates cangkul dan joker, pokoknya yang ga pake mikir lah. Kemaren pas diajarin main "fugou" juga ga mudeng-mudeng. Next time, lets just stick with "cangkul", OK?! wakatte kure yo, minna!
Jam 9 lewat, Echa akhirnya dateng juga. Setelah melalui tahap "rebut-rebutan es krim" dengan anak-anak Korea (dengan kubu indonesia diwakili intan dan sandi), kami meluncur ke Saizeriya tenjinbashi for a very very late dinner.  Di saizeriya, puas makan, kembung minum softdrink (karena pake drink bar yang nomihoudai),puas ngobrol , puas ledek-ledekan, puas ketawa-tawa (untungnya sepi, jadi kayaknya sih kita ga mengganggu siapa-siapa), akhirnya kita pulang jam 12 kurang.
Tinggal di Jepang, dikelilingin orang-orang asing, 1 hal yang aku sadarin; kesempatan buat kumpul-kumpul sama temen-temen orang Indonesia dan bisa bicara sepuasnya dalam bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sangat amat berharga. Makanya aku heran kalau ada orang Indo yang anti bergaul sama sesama orang Indo. Ngomong bahasa Indonesia pun dianggap sebagai "nilai kurang". Wake wakaran...
Betewe, karaoke kemarin membangkitkan lagi jiwa karaokeku yang sempat tertidur selama 1 bulan lebih. JAdi, kalau kalian pas hima dapat "surat cinta" dari Jankara dan tiba-tiba butuh teman buat tereak-tereak di karaoke booth, jangan ragu-ragu menghubungi saya! Kecuali kalau saya pas lagi bokek kronis atau tumben-tumbennya sudah punya acara lain, kemungkinan besar jawaban saya adalah "Hayuuuk!"
Hehehe

ナポリを見てから死ね

Judul Posting kali ini, kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris jadi: "See Naples and then die!" yang katanya merupakan sebuah kalimat cukup terkenal yang menggambarkan betapa Napoli adalah kota yang wajib dikunjungi minimal sekali selama kita masih hidup.
Apakah Napoli segitu bagusnya? Segitu pentingnya, sampai kita belum boleh mati sebelum melihat kota itu? Aku ga tahu, tapi pelajaran kaigai chiri hari ini bener-bener membuat hasratku buat pergi ke Italia semakin menggebu-gebu. Suatu hari aku akan menjejakkan kakiku di Italia, dan tentu saja Napoli ga akan kulewatkan.
I shall see Naples before I die....



mini知識:
temen2, tahu Spaghetti Napolitan ga? Kalo ga pernah makan, aku rasa minimal pernah denger kan (apalagi yang tinggal di jepang)? Nah, kalau kalian menebak asal spaghetti ini adalah dari kota Napoli, Italia, kalian salah besar. Rupanya spaghetti ini asli kelahiran Jepang yang kemudian mencatut nama Napoli yang terkenal sebagai kota asalnya pizza itu. Ckckckck, aku benar-benar tertipu!